Terdeteksi pertama kali di China pada akhir tahun 2019, saat ini virus Covid-19 telah menginfeksi sekitar 230 juta orang di dunia. Dahsyatnya penyebaran virus tersebut telah mengubah gaya hidup manusia – termasuk di dalam aktivitas pembelajaran di sekolah dan universitas. Pembelajaran tatap muka terpaksa digantikan dengan pembelajaran tatap maya guna memperlambat penyebaran virus Covid-19 tersebut. 

Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) merupakan salah satu Universitas yang telah melakukan peralihan dari tatap muka ke tatap maya. Tahun ajaran 2021/2022 merupakan siklus ketiga tatap maya ini dilakukan di UNPAR.

Pembelajaran Daring di UNPAR

Biro Administrasi Akademik (BAA) UNPAR telah melakukan survei pembelajaran daring semester ganjil 2020/2021 terhadap dosen dan mahasiswa. Hasil survei secara umum menunjukkan bahwa 54,9 persen mahasiswa merasa interaksi dosen dan mahasiswa secara daring berjalan baik. Sementara 49,2 persen dosen merasa interaksi dosen dan mahasiswa secara daring berjalan baik.

Lebih lanjut, 74,6 persen mahasiswa merasa mutu pembelajaran dapat tetap terjaga. Sedangkan di sisi lain, hanya 57 persen dosen yang setuju dengan pernyataan tersebut. Sementara dalam penggunaan Learning Management System (LMS), media asinkronus yang digunakan oleh dosen adalah IDE (Interactive Digital learning Environment) UNPAR. IDE merupakan situs pembelajaran digital yang dikembangkan UNPAR sejak 2012 silam, namun saat ini pemanfaatan IDE sudah 100 persen sejalan dengan kebutuhan akan pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19.

Selain IDE, Google Classroom juga menjadi LMS platform pembelajaran digital. Di mana IDE UNPAR mendapatkan porsi akses penggunaan sebesar 48,20 persen. 

Selama semester genap 2020/2021, sebanyak 45 persen kelas di Fakultas Ekonomi UNPAR aktif menggunakan IDE sebagai pembelajaran daring asinkronus yang didominasi oleh fitur assignment dan file. Di Fakultas Hukum UNPAR, sebanyak 71 persen kelas sudah aktif menggunakan IDE dan fitur assignment yang banyak digunakan untuk evaluasi pembelajarannya.

Sementara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Teknik masing-masing di angka 35 persen dan 31 persen, sedangkan Fakultas Filsafat mengakses IDE sebanyak 58 persen. Lebih lanjut, Fakultas Teknologi Industri (FTI) UNPAR menjadi fakultas yang tertinggi penggunaannya IDE-nya, sebesar 80 persen. Fakultas Teknologi Informasi dan Sains (FTIS) pun menggunakan IDE UNPAR sebanyak 66 persen.

IDE UNPAR

Sekadar informasi, IDE merupakan platform yang dibuat untuk menyelenggarakan pembelajaran daring. Dimana LMS tersebut merupakan sarana bagi dosen untuk memberikan perkuliahan secara asinkronus. Dalam hal ini, dosen dapat menyimpan materi perkuliahan dengan format teks, gambar, audio/video, serta materi lain yang bersifat interaktif. 

Dosen pun dapat melakukan aktivitas dan asesmen pembelajaran secara daring dengan bentuk forum, workshop, kuis, penugasan, dan lain-lain. Sementara mahasiswa dapat menikmati materi perkuliahan yang dapat dipelajari tanpa batas waktu.

Peran IDE UNPAR

Apa sebenarnya peran fungsi IDE ketika pembelajaran daring berlangsung? Tentunya sebagai LMS, IDE menjadi wadah pembelajaran digital bagi mahasiswa dan dosen. 

 Bagi Pendidik: 

  1. Sarana penyimpanan materi: IDE dapat digunakan untuk sarana penyimpanan dan penyampaian materi yang dapat dilakukan dengan menambahkan sebuah file baru cukup dengan melakukan drag and drop saja. Pendidik dapat menambahkan file secara otomatis. Opsi yang lain dapat dilakukan dengan menambahkan hasil resource dari materi pada kursus yang lain, dapat berupa filefolder atau alamat URL (Uniform Resource Locator). Pendidik juga dapat melakukan embed HTML (Hyper Text Markup Language) ke dalam IDE sehingga aktivitas pembelajaran yang sifatnya interaktif dapat dilakukan di IDE.
  2. Sarana melakukan asesmen dan evaluasi pembelajaran. IDE memungkinkan pendidik melakukan asesmen dan evaluasi pembelajaran secara daring. Selama pandemi, pendidik melakukan UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester) melalui IDE dengan beragam aktivitas seperti: pengumpulan tugas melalui Assignment, mengerjakan soal pilihan ganda, uraian, dan beragam tipe soal melalui Quiz, pengumpulan dan diskusi tugas akhir melalui Forum, serta aktivitas pembelajaran lain yang disediakan di IDE (Workshop, Database, SCORM, dll).
  3. Monitoring mahasiswa. Pendidik dapat memonitor aktivitas mahasiswa di dalam IDE dengan fitur yang tersedia untuk melihat kapan mahasiswa mengakses ke kelas, unggah file tugas, dll. Fitur ini memungkinkan dosen untuk memastikan mahasiswa mempelajari materi yang diberikan oleh dosen.
  4. Komunikasi dan Kolaborasi. Pendidik dapat melakukan komunikasi dengan beberapa cara di IDE. 1) Send message. Dengan mengirimkan pesan dari IDE baik secara pribadi ataupun massal, pendidik dapat memberi informasi langsung yang terhubung ke Google Mail UNPAR pribadi mahasiswa. Cara ini dapat dilakukan bila dosen ingin memberi pengumuman ke seluruh mahasiswa yang ada di kelas tersebut atau bila ada mahasiswa yang butuh konsultasi secara pribadi terkait pembelajaran di kelas. 2) Forum. Melalui forum, pendidik dapat memberikan informasi dimana seluruh mahasiswa di kelas dapat terlibat dalam komunikasi dua arah. Sementara itu untuk fitur kolaborasi, pendidik dapat menggunakan fitur Workshop yang memungkinkan mahasiswa saling memberikan input untuk sebuah proyek.

Pemberian materi, asesmen, evaluasi, monitoring, komunikasi dan kolaborasi yang dapat dilakukan di IDE tersebut berperan besar dalam terlaksananya pembelajaran daring yang efektif.

Bagi Mahasiswa: 

  1. Akses materi dan aktivitas belajar. Mahasiswa dapat mengakses, mengunduh, dan mempelajari materi yang disediakan oleh dosen di IDE kapan saja dan dimana saja sehingga menjadi bekal saat pembelajaran sinkronus dilakukan. Mahasiswa menjadi dapat berpartisipasi lebih aktif melalui diskusi dan presentasi saat tatap maya berlangsung. Mahasiswa juga dapat beraktivitas secara langsung di IDE saat kuis atau tugas dibuka oleh dosen dan feedback-nya juga dapat dilihat secara langsung oleh mahasiswa (bila dosen menyediakan).
  2. Komunikasi dan kolaborasi. Mahasiswa dapat melakukan komunikasi di IDE baik antar mahasiswa maupun mahasiswa dengan dosen pengampu kelas tersebut melalui send message, fitur Chat, dan komunikasi serta kolaborasi di dalam fitur Forum. 

Selain pembelajaran daring yang disediakan pada semester berjalan, banyak juga program pembelajaran lain yang dibuka di IDE. Beberapa diantaranya adalah program pengembangan karakter, Pearson Online English, BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) dan course lainnya. Selain pertemuan tatap maya yang dilakukan dengan perangkat lunak seperti Google Meet dan Zoom di course tersebut, materi dan aktivitas pembelajaran serta absensi untuk course di luar semester tersebut dilakukan di IDE.

Peran dan Peluang IDE

Akan seperti apa IDE UNPAR pada beberapa tahun kedepan mengingat dorongan pembelajaran tatap muka (PTM) terhadap institusi pendidikan, tak terkecuali pendidikan tinggi?

IDE sudah ada bahkan sebelum pandemi Covid-19 melanda, maka LPPK (Lembaga Pengembangan Pemelajaran dan Karier) UNPAR menganggap bahwa IDE akan tetap relevan bahkan akan membuka peluang untuk kuliah dari mana saja, dimana saja dan kapan saja. IDE akan membuka peluang baru bagi pendidik yang ingin menyelenggarakan flipclass learning.

Dosen semakin sering menyimpan materi yang dapat diakses oleh seluruh mahasiswa, sehingga ketika tatap muka berlangsung pertemuannya dapat lebih efektif karena materi sudah disampaikan dan dipelajari sebelumnya.

Peluang baru yang muncul adalah dapat dibukanya kelas fully online bagi mahasiswa yang ingin mengambil kelas online atau Kampus Merdeka di UNPAR tentunya harus disesuaikan dengan aturan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) dan Kampus Merdeka. Selain itu IDE dapat diintegrasikan dengan SPADA Indonesia (Sistem Pembelajaran Daring Indonesia) sehingga tetap dapat bermanfaat bagi dosen yang mengikuti hibah SPADA atau dosen yang ingin membuka kelas di SPADA.

Pengembangan IDE UNPAR

Melihat begitu besar peran dan peluang IDE kedepannya, menjadi PR besar bagi LPPK untuk terus mengembangkan IDE. Dengan kendala pada tahun sebelumnya dimana sebagian besar mahasiswa dan dosen mengeluhkan server IDE yang sering down, LPPK bekerja sama dengan Biro Teknologi Informasi (BTI) UNPAR sudah berusaha memperbaiki kendala tersebut dengan menambahkan load balancer dan membagi menjadi beberapa web server

IDE juga ingin menambah pengguna IDE yang membutuhkan LMS yang mudah digunakan. Solusinya adalah dengan mempermudah tampilan dan penggunaan IDE agar lebih user friendly bagi segala golongan. 

IDE yang saat ini sudah terintegrasi dengan Sistem Informasi Akademik (SIAKAD) UNPAR sehingga dari sisi administrasi sudah tidak akan ada lagi keluhan terkait kelas yang belum sesuai dengan Student Portal UNPAR. IDE juga sudah dapat diakses langsung dari Student Portal. Harapannya IDE dapat diintegrasikan juga dengan Lecturer Portal sehingga RPS (Rencana Pembelajaran Semester) dapat sesuai dengan topik pada IDE.

Pertemuan tatap maya yang selama ini menggunakan aplikasi seperti Google Meet atau Zoom menjadi syarat mutlak sebuah perkuliahan sinkronus yang saat ini pertemuan tersebut hanya dapat dibagikan melalui tautan URL di IDE . Pengembangan IDE ke depan adalah bagaimana menyatukan aplikasi pertemuan tatap maya ini ke dalam IDE, sehingga dosen dapat langsung membuat tautan pertemuan dan learning activity dari IDE dan nantinya dapat diakses langsung oleh mahasiswa. 

Pengembangan lainnya adalah dengan membuat IDE Mobile App. Saat ini sudah dibangun aplikasi IDE UNPAR yang dapat digunakan di mobile phone mahasiswa namun masih bersifat early access yang butuh masukan dan percobaan. Rencana ke depan, aplikasi ini dapat digunakan seluruh mahasiswa UNPAR untuk mengakses IDE sehingga harapannya lebih ramah kuota, lebih mudah digunakan dan semakin mudah belajar kapan saja dimana saja.

Pengembangan IDE diatas ini semoga dapat memperbaiki kualitas pembelajaran daring baik dari segi interaksi dosen-mahasiswa secara daring maupun mutu pembelajaran daring. (Ira Veratika SN-Humkoler UNPAR)
Sumber : IDE UNPAR Jawab Tantangan dan Peluang Digitalisasi Pendidikan | Universitas Katolik Parahyangan

X